Do you really think it’s cool..?

Gue hidup untuk hari ini cuy, apa yang terjadi, ya terjadilah, biarin aja, hari ini gue kaya, trus besok gue miskin, ato hari ini gw punya kerjaan, terus besok dipecat, paling tinggal nyari kerja lagi, susah amir…

Enak loh mit, coba deh, sekali-kali loe jgn planning hidup lo, keluar dari keseharian lo, memberontak sekali-kali, selama ini kan hidup lo udah enak, mo apa-apa tinggal minta bokap, sekali-kali susah wouldn’t kill you..

belajar deh jadi beda dengan yang lainnya, gak usah terlalu mikirin kata dan pendapat orang, yang ngejalanin hidup kan lo sendiri.

*Menghela napas panjang*

Mo jujur-jujuran nih..? gue paling bete kalo ada yang ngomong gini ke gue.. Niat gue yang tadinya cuma pengen menasehati dia, karena gaya hidupnya yang menurut gue terlalu berlebihan dan aneh, akhirnya gue cuma diem, nyengir sambil menghujat sumpah serapah didalam hati, dia yang cuma gue kenal selama 3 tahun, udah berani memberikan judgment yang berlebihan, seolah udah mengenal gue seumur hidup. Stereotype “anak manja dan penurut” emang udah sering gue dapatkan dari beberapa orang yang mengenal gue hanya pada beberapa tahun terakhir ini, kadang suka bikin telinga panas, but trust me.. I’ve been going through a lot, I did many things that I wish I never did, I know how’d it feels to be zero in everything, and I fought for everything that I want, I am not spoiled, but I do get what I want and I get that in a hard way, not just wave my hand to my dad..

Being rebellious is cool, but.. it has time limit, been there, done that..!

Dulu, gue selalu ingin beda dengan yang lain, entah kenapa, keinginan untuk selalu “dilihat” dan sifat rebellious  keluar membludak dengan luar biasanya. Semakin gue beda dengan orang-orang sekitar, gue semakin senang, semakin gue bisa memberontak dari aturan yang ada, sepertinya gue merasa hidup gue semakin bermakna, semakin ketat aturan yang mencoba mengikat gue, semakin kuat gue menggeliat untuk keluar dari aturan tersebut. Gue merasa punya hak penuh untuk mengatur seperti apa hidup yang bakal gue jalanin, dan peduli setan dengan pikiran dan judgment orang-orang sekitar, selama gue gak menyakiti orang lain, karena gue yang bakal ngejalanin hidup, bukan orang laen, bukan keluarga, bukan orang tua.

Am I a Planner?

The answer, unconsciously.. Yes.. certain conditions have made me as a planner

Terlepas dari semua prinsip gue diatas, gue sadar akan konsekuensi yang akan gue terima, gue mulai mengatur dan merancang hidup gue, semuanya berdasarkan worst case scenario, gue memang seorang planner, tapi plan scenario yang gue bikin gak pernah melibatkan orang lain, gue gak pernah mau menggantungkan jalan hidup gue kepada siapapun, bahkan keluarga, karena gue yakin, yang bisa memahami jalan pikiran gue, cuma gue sendiri, bahkan dari kecil, gue udah sibuk dengan pikiran gue sendiri, syndrome anak kedua sangat melekat pada keseharian gue, merasa tersisihkan dari sodara-sodara yang lain, menjadikan gue terbiasa hidup sendiri.

Gue inget, goal pertama yang pernah gue bikin adalah, keluar dari rumah dan hidup mandiri sendirian. Untuk itu, gue harus punya bekal, tingkat pendidikan yang at least sarjana, sehingga gue bisa memperoleh pekerjaan yang setidaknya bisa mencukupi kebutuhan hidup gue. To be honest, gue gak terlalu peduli dengan jabatan atopun tingkatan karir, gue bekerja untuk memenuhi goal hidup gue yang selanjutnya, gue pengen berhenti kerja di umur 40 tahun, gue pengen jalan-jalan, mungkin kalo gue bilang, gue punya plan buat keliling dunia terlalu cliche dan gue tau butuh usaha dan dana yang luar biasa buat memenuhi hasrat keliling dunia.

Beberapa tahun yang lalu, ketika gue menceritakan semua rencana gue dengan salah seorang teman gue yang jauh lebih tua dari gue, dia cuma bilang, “gue mau tau, lo masih punya plan kayak gini gak 5 tahun ke depan, di umur lo yang sekarang, kita emang cenderung egois.. gue…gue…gue…gue… terus, tapi begitu lo udah lebih dewasa, lo bakal sadar, sampe lo setua apapun, sekaya apapun, sebebas apaun, lo tetap butuh keluarga, sahabat dan rumah, coba aja liat”

Surprisingly, kata-kata temen gue tersebut emang terbukti, kalo dulu, gue sempet gak kuat berada dibawah satu atap sama nyokap gue, semenjak hidup sendiri, gue justru kangen diomelin nyokap, kalo dulu, gue lebih memilih beredar keluar rumah dengan teman-teman gue, sekarang, gue lebih memilih di rumah. Semakin gue merasa dewasa, gue semakin ngerasain apa aja pengorbanan yang udah dilakukan oleh orang tua gue dan keinginan buat ngebahagiain orang tua sepertinya gak akan pernah abis. Dan semakin bertambah umur, gue semakin sadar, semakin sedikit waktu yang bisa gue habiskan bersama keluarga gue, orang tua gak akan hidup selamanya, sodara-sodara pasti akan sibuk dengan keluarganya masing-masing. Pada saat-saat inilah suka ada penyesalan, kenapa dulu gue lebih memilih untuk hidup diluar rumah dan jauh dari keluarga.

Gue pernah menjalani hidup sendirian di negeri orang, dengan kultur yang jauh berbeda dari kultur timur, pada awalnya, gue senang, no one will mind my own business, sepertinya pulang kerja enak bgt, gak perlu berbasa basi dengan tetangga apartment, kalo ketemu di jalan gak noleh juga gak apa-apa, gak ada acara gosip ria yang suka diadakan oleh para tetangga di Indonesia pada umumnya, semuanya sibuk pada urusan masing-masing. Akibatnya, pada saat gue balik for good, gue harus ikhlas menerima kenyataan, bahwa, what goes around, comes around, you think it’s cool not to mind other’s people business..? try to take 3 huge luggage from 3rd floor building into the main lobby, using stairs, everyone looking at you with their pity face, but nobody care to offer their hands to help.

Maka dari itu, beruntunglah kita yang hidup di kultur timur, dimana hubungan tiap orang lumayan dekat, ada yang mengingatkan kalo kita salah jalan. Ada teguran dari masyarakat/komunitas akan selalu ngebuat kita intropeksi diri.

Sekarang gue sadar, in some ways, sometime, self  happiness is selfish, siapa bilang, yang ngejalanin hidup itu adalah kita sendiri, kita ngejalanin hidup dengan banyak komponen didalamnya, salah satunya adalah komponen bersosialisasi, kalo hidup itu adalah sebuah film dengan durasi yang sangat panjang, kita cuma bintang utama yang didampingi oleh beberapa bintang pendamping dan ribuan figuran, belum terhitung pihak yang berada di belakang layarnya, yang siap menjadi juri, apakah kita telah membuat film yang sukses dan menghasilkan ribuan amal ibadah, ibarat sebuah film box office. Ato kita selama ini memproduksi film yang hanya kita sendiri yang mengerti jalan ceritanya, dan mungkin saja, film nya termasuk film dengan rating rendah dan gak layak untuk dijadikan tontonan.

Pesan Moral :

Being yourself and ambitious is good, but please be considerate people around you and the rules applied in your community. Suka ato tidak suka, image diri kita bergantung pada pandangan orang di masyarakat. Bersikap kritis boleh aja, tapi tetap ada beberapa hal yang merupakan nilai mati dan gak bisa dikritisi.

Stop being rebellious when you think the time is up, take your note, plan your life, get real girlfriends..!, you won’t live forever. Time is running out.. At the end you will not want to die without any achievement to be remembered, and please noted, that Living for Today is not achievement and something that can be proud of, it’s a stupid idea..

Being unique and different is when you comfortable about yourself, even if you’re a big fans of Backstreet Boys… :p

This entry was posted in Thoughts. Bookmark the permalink.

1 Response to Do you really think it’s cool..?

  1. Perez Christina says:

    nice post

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s