Eat Pray Love

Eat Pray Love

Bukan.. bukan.. gak ada spoiler di dalam postingan ini, cuma sedikit comment.

Tidak sesuai ekspektasi

Banyak banget komponen yg bagus didalam filmnya, di shoot di beberapa tempat; Rome, India dan Bali, sayangnya, si pembuat film, gak bisa terlalu memanfaatkan hal tersebut. Malahan bagi gue yg menarik adalah makanan-makanan yang ada di trip si Elizabeth ketika ke Rome, sisanya gak terlalu bagus untuk dilihat.

Cerita terlalu fokus ke Elizabeth nya, pemainnya lumayan banyak, dan diceritakan kalo mereka semua adalah teman dekat dari si Elizabeth ini, cuma sayang, ibarat internet, si teman-temannya ini, satu persatu muncul seperti dialog box ato pop up window, dan hilang begitu saja. That’s it..! belum kerasa chemistry dari masing-masing teman tersebut, tiba-tiba mereka hilang. Belum lagi, figuran-figuran yang terasa banget dimasukkan untuk “meramaikan” film ini, contohnya; si asisten nya Ketut Liyer dengan celetukan-celetukan yang garing banget. Bahkan porsi si Javier Bardem sangat sedikit dengan akting yang kerasa sangat biasa dan kaku. James Franco juga terlihat seperti aktor figuran yang pas-pas-an (untung cakep.. huehehe)

Konflik dan nafas film, terasa didalam part-2, ketika perjalanan Elizabeth ke India, dimana dalam pencarian Tuhan-nya, ia bertemu dengan mantan alkoholik yang bernama Richard,. Richard adalah orang yang menyadarkan Elizabeth, bahwa banyak orang yang mempunyai problematika kehidupan yang jauh lebih berat. Sayangnya, begitu sampai Bali lagi, cerita kembali menjadi datar.

Suasana Bali nya juga kurang kena, mungkin karena gue emang tinggal di Bali, gue merasa malah pemandangan sawah subak yang diambil dari atas, terasa sangat biasa, mengingatkan gue dengan film-film perang Vietnam jaman dulu. Penjor Bali pun gak terlihat banyak, satu-satunya yang gue liat “Bali Banget” adalah rumah si Ketut Liyer, sama Monkey Forest (ini juga bakal terlihat kalo kamu pernah ke Monkey Forest). Sisanya, well, bisa diliat sama dengan film-film asia lainnya. Padahal Ubud adalah salah satu daerah di Bali yang indah banget, tempat favorit gue buat ngupi-ngupi ato sekedar refreshing dari Denpasar. Banyak tempat-tempat yang seharusnya diperlihatkan, salah satunya adalah pasar seni Ubud dan jalanan di sekitar Monkey Forest yang banyak coffee shop dan art shop.

Buat gue, gak terlalu banyak pesan moral yang disampaikan di film ini kecuali keseimbangan dalam hidup itu sangat penting. Bersikap apatis, tidak percaya dan takut hanya akan membuat hidup terasa lebih berat. Sisanya, gue lebih merasa si Elizabeth hanya sebagai seorang drama queen yang berhasil menemukan keseimbangan dalam hidupnya. Other than that.. this movie is quite boring and I have no intension to watch it again. Mungkin lebih menarik isi bukunya dibanding filmnya. Jadi para pembaca, jangan berharap terlalu tinggi, tapi buat yang kangen Bali, India atopun Rome, mungkin film ini bisa jadi obat kangen.

Gue bisa bilang, film ini banyak pemain tetapi terasa sangat sepi. Mungkin karena satu buku, 3 perjalanan dan satu tahun dipepetkan kedalam film yang hanya berdurasi 113 menit. Bisa jadi juga, si pembuat film dan Elizabeth asli, kurang bisa menempatkan atau mengambil intisari yang menarik dari perjalanan tersebut untuk dibuatkan sebuah film.

Well, that’s from my point of view –

Advertisements
This entry was posted in Movies, Thoughts and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s