Kasus Anak Pejabat

Here’s a thought.. bukan bermaksud untuk memihak kepada anak pejabat, tapi gue rasa masyarakat di Indonesia ini udah mulai harus berfikir tentang keselamatan berkendara. Bayangin aja, satu motor bisa dipake maksimal ber-lima dan minimal ber-tiga, kopaja ato metromini yang kapasitas maksimalnya 35 orang, pada kenyataannya bisa diisi dua kali lipat.

Begitu juga yang terjadi dengan kecelakaan antara Daihatsu Luxio sama BMW 5 kemarin. Yang punya omprengan pengen dapat duit banyak, bangku dimodifikasi, yang penumpang pengen naik omprengan karena ongkosnya akan lebih murah, kalo pengemudi Daihatsu Luxioo gak ngaku bahwa mobilnya udah dimodifikasi, gue gak sepenuhnya percaya, pasti dimodifikasi, kalo enggak dimodifikasi, pasti jumlah penumpang sedikit (walopun tingkat keselamatan terjamin) jumlah penumpang yang sedikit tersebut gak sebanding dengan biaya operasional yang harus dikeluarkan, seandainya untung pun pasti sedikit.

Gue inget waktu kuliah dulu suka ngeliat omprengan di perempatan Ciledug, kijang pick-up yang di-atapi dengan terpal, bangku panjang dipasang di kiri kanan, tentu saja udah dimodifikasi sedemikian rupa. Dilihat dari tingkat keamanannya, udah pasti gak aman, tapi toh orang-orang tetap nekat.

Balik lagi ke kasus si anak pejabat tadi. Ketika semua orang menghujat, kasus si anak pejabat dirasakan sangat diistimewakan, dengan tidak adanya penahanan. Kalo kata gue sih wajar-wajar saja. Malah sebenernya menurut gue, penyebab kecelakaan itu mengambil korban jiwa adalah karena si pemilik omprengan tadi, yang melakukan modifikasi interior nya. Kalo si pemilik omprengan itu mengutamakan keselamatan penumpangnya, dan tidak memodifikasi interior hanya untuk mendapatkan duit lebih, kemungkinan kecelakaan tersebut gak merenggut korban jiwa. Kesimpulan gue, si anak pejabat itu cuma apes, berada di tempat dan waktu yang salah, dan berurusan dengan orang yang salah pula.

Jadi, jangan menghakimi terlalu ekstrim, coba letakkan posisi kita di posisi si anak pejabat itu, pasti kita gak mau dihakimi seperti itu, karena dalam kondisi yang ideal, tabrakan seperti kejadian tersebut, kemungkinan besar gak akan merenggut korban jiwa. Seandainya pun memang si anak pejabat itu terasa diistimewakan, menurut gue ya wajar-wajar aja, toh Ayah-nya pejabat, semua orang tua pasti akan berusaha melindungi anaknya sampe semampu-mampunya. Dengan mendampingi anaknya menjalani sidang pengadilan, dan menyerahkan anaknya ke pihak yang berwajib, sikap tersebut patut di apresiasi.

Again.. that’s what I thought..

Advertisements
This entry was posted in Thoughts, Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s